Gaun Pengantin Adat Jawa Ternyata Memiliki Banyak Perbedaan

29 Jun 2020 | By Wedding Market | 102
Gaun Pengantin Adat Jawa Ternyata Memiliki Banyak Perbedaan
Foto: Thepotomoto

Apabila kamu menikah menggunakan adat Jawa, maka bisa dipastikan kamu akan melaksanakan beberapa ritual adat yang memiliki makna masing-masing sampai menuju pelaminan. Tidak hanya itu saja, selain ritual hal lain dari Adat Jawa yang juga memiliki banyak makna adalah baju pengantin adat Jawa yang digunakan baik oleh mempelai wanita maupun pria, terutama mempelai wanita. 

Selain itu untuk gaun pengantin Adat Jawa ternyata ada beberapa perbedaan antara satu daerah dengan daerah yang lain.

Perbedaan Gaun Pengantin Adat Jawa Yogyakarta dan Solo Basahan


Sebelumnya sudah disinggung bahwa baju pengantin adat Jawa memiliki perbedaan antara satu daerah dengan daerah lainnya. Untuk perbedaan yang paling besar dari pakaian adat Jawa ini biasanya melibatkan adat Jawa Yogyakarta dan juga SoloKedua adat ini memang bisa dibilang representatif adat Jawa di pernikahan.

1. Hiasan Kepala

Dimulai dari bagian paling atas tubuh yakni bagian kepala yang menggunakan hiasan seperti bando dengan ornament seperti tusuk di atasnya. Hiasan kepala ini dinamakan paes ageng, dan berbeda antara Yogyakarta dengan Solo Basahan. 

Solo Basahan memiliki bentuk yang cenderung lebih melengkung jika dibandingkan dengan Yogyakarta yang lebih runcing pada bagian atasnya.

2. Bentuk Baju yang Digunakan

Kalau kamu sering melihat baju seperti kemben digunakan pada pernikahan Adat Jawa, maka itu adalah baju pernikahan dari adat Solo Basahan. 

Nama pakaian adat dari solo basahan ini adalah dodotan Jogja. Ada lagi dari Jogja yang berbentuk seperti kebaya, lalu ada juga busana dari Jogja Kanigaran yang memiliki model jauh lebih tertutup dari keduanya.

3.  Kain yang Dikenakan

Jawa terutama Jawa Tengah seperti Solo, dan Jogja diketahui memiliki banyak sekali kain batik khas dari daerah tersebut. Karena hal itulah kain yang dikenakan juga menjadi pembeda antara kedua pakaian pernikahan dari adat Jawa ini. 

Kalau kain batik dodotan solo lebih sering didominasi dengan warna hijau, kalau dari Jogja memiliki warna hitam ataupun cokelat.

4. Perpaduan Warna

Perhatikan perpaduan warna yang digunakan dari kedua adat tersebut, karena apabila kamu teliti maka kamu bisa menemukan ada perbedaan. Seperti pada adat Jogja yang lebih sering memadupadankan warna putih dan juga cokelat. 

Lalu pada pakaian adat dari Solo Basahan maka untuk gaun pengantin adat Jawa yakni dodotnya, lebih sering menggunakan warna hijau.

5. Ornamen Pelengkap

Selain perpaduan warnanya ornamen pelengkap juga menjadi pembeda antara dua pakaian adat yang sama-sama berasal dari Jawa ini. Kalau diperhatikan untuk adat solo basahan, maka ornament pelengkapnya adalah rentengan bunga yang digunakan oleh kedua mempelai. 

Hal ini tidak akan sering ditemukan di pakaian adat jawa yang dari Jogja, karena biasanya lebih polos.

6. Make Up

Terakhir adalah make up yang digunakan karena ada sedikit perbedaan pada keduanya, dan juga makna yang ada dari make up tersebut. Meskipun sama-sama mewarnai bagian kepala, dan melukis jidat dengan ornamen yang khas. Tapi jika diperhatikan ada sedikit perbedaan bentuk pada ornamen tersebut.

Makna Dari Pakaian Adat Jawa

Seperti halnya baju dari adat yang lain, pakaian adat Jawa juga pasti memiliki maknanya tersendiri yang berisikan doa untuk para pengantinnya. Biasanya makna ini terletak langsung pada pakaiannya ataupun ornamen yang terletak di pakaian tersebut. Adapun beberapa makna dari pakaian pernikahan adat Jawa diantaranya adalah.

1. Makna Penggunaan Warna

Jawa itu sering sekali menggunakan warna HItam sebagai warna dominannnya, apalagi pakaian adat dari daerah Jogja. Ternyata warna hitam memiliki makna berupa doa yakni kebijaksanaan dan juga kebahagiaan yang abadi untuk rumah tangga mempelai. 

Tidak hanya itu saja perpaduan warna emas juga menjadi harapan untuk kejayaan dan kekayaan saat mengarungi rumah tangga.

2. Jangan Menir

Untuk model jangan menir ini merupakan baju adat pengantin Jogja yang juga memiliki dominasi warna hitam di sekelilingnya, biasanya dikenakan saat acara boyongan. 

Baju ini menjadi perlambang bahwa orang tua memberikan anaknya yakni mempelai wanita untuk kehidupan baru berumah tangga dan juga untuk dibahagiakan.

3. Baju Dodot

Kalau baju yang satu ini, maknanya paling banyak terletak pada ornamen yang ada di dalamnya yakni kumpulan satwa. Salah satunya yakni kura-kura dan juga ular yang melambangkan air dan dunia bagian bawah (bumi). 

Lalu ada burung garuda yang menjadi perlambang dari kedudukan raja yang tinggi sebagaimana burung garuda yang terbang tinggi diatas.

Mungkin Tidak Baju Pakaian Adat Jawa Di Modernisasi? 

Karena membahas tentang gaun adat Jawa apakah bisa disamakan dengan pakaian adat Jawa? Ternyata jika melihat dari kedua ornamen dan unsur yang ada bisa dikatakan keduanya merupakan hal yang sama. 

Hanya saja gaun pengantin adat Jawa ini merupakan bentuk modernisasi dari pakaian pernikahan adat jawa untuk mempelai wanita yang biasanya dikenakan. Bagi kamu yang ragu, mungkin kamu akan berpikir apakah boleh pakaian adat Jawa yang merupakan warisan budaya dimodifikasi dan diberikan sentuhan modern? 

Jawabannya adalah boleh selama tidak menghilangkan unsur asli yang ada di dalamnya seperti penggunaan kain dan juga ornament. Contoh Kebaya dari Jogja ataupun Jangan Menir yang bisa diganti desain menjadi gaun pengantin dengan menambahkan panjang pada bagian bawahnya.

Jadi ternyata gaun pengantin adat Jawa tetap mempertahankan budaya yang selama ini biasa digunakan pada pakaian pernikahan dari adat Jawa meskipun terkesan lebih modern. Tidak hanya itu saja kalau diperhatikan lebih lanjut, maka kamu akan menyadari jika ada perbedaan dari pakaian adat ini meskipun sama-sama berasal dari Jawa Tengah.

Yuk temukan vendor gaun pengantin adatmu di WeddingMarket, dengan harga terbaik dan desain berkualitas, hari pernikahanmu dijamin akan semakin istimewa! Klik di: -Gaun Pengantin Wedding Market-


Artikel Terkait



Temukan Vendor Untuk Pernikahan